Tampilkan postingan dengan label Logika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logika. Tampilkan semua postingan
Definisi Logika Sientifika

Definisi Logika Sientifika

Wibi Alwi Surya Kuncoro 14.03.00 Add Comment
Definisi Logika Sientifika-Logika Sientifika adalah ilmu praktis normatif yang mempelajari hukum-hukum, prinsip-prinsip, bentuk-bentuk pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing kita mencapai kesimpulan-kesimpulan yang betul lurus, sah.

1. Ilmu

Manusia mengerti bahwa mengerti, maka dapatlah ia menyempurnakan pengertianya. (Di sini, meskipun mungkin menurut asal arti kata tidak ada perbedaan yang jelas antara mengerti dan mengetahui, saya dengan sengaja memakai istilah 'pengertian' dalam arti yang umum, sedangkan pengetahuan dipakai untuk menunjuk pengertian yang 'lebih sempurna' karena orang mengerti sebab-sebabnya.)

Manusia dapat menyempurnakan cara-caranya menangkap realitas, menunjukan sifat-sifat suatu realitas, dan mencapai sebab-sebab suatu realitas. Maka dengan demikian manusia tidak saja mengerti melainkan juga dapat mengerti seluk-beluk objeknya. Manusia tidak saja menemukan sesuatu, tetapi juga dapat mempertanggungjawabkan hasil penemuanya. Dia dapat mengerti betul apakah sebabnya ia berkata begini atau berkata begitu tentang suatu objek.

Demikianlah manusia mempunyai pengetahuan, yakni pengertian yang disertai sebab-sebab, pengertian yang dipertanggung jawabkan dengan dasar-dasar. Tetapi pengetahuan bukanlah atau belumlah ilmu. Dibutuhkan pandangan, penelitian yang logis teratur bersifat kritis dan sistematis. Untuk mendapatkan ilmu, orang masih harus menyempurnakan cara mengetahui objek dengan lebih seksama. Dengan demikian dibutuhkan, yakni cara pendekatan persoalan, melalui jalan yang ditetapkan, dipikirkan, dipertanggung jawabkan terlebih dulu. (Disini orang yang perlu waspada terhadap kenyataan keterbatasan metode karena metode memprastrukturkan pikiran penelitian sehingga objeck tidak ditangkap sebagai mana mestinya). Bahan-bahan yang diperoleh melalui jalan ini kemudian dibanding-bandingkan, dianalisa, dicari unsur-unsurnya, sebab akibat, dipastikan sifat-sifat umum. Kemudian disintesis kembali, di jadikan satu pandangan yang kritis, satu keseluruhan yang logis teratur dan berkaitan, satu sistim. jadi ilmu dapat dirumuskan sebagai :

Kumpulan pengetahuan hasil penyelidikan dan pandangan logis teratur, kritis dan sistematis terhaap suatu objek.

Logika sientifika memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut, meskipun sebagai filsafat juga memiliki perbedaan fundamental dari ilmu vak lainya. Logika sientifika bahkan merupakan syarat mutlak eksistensi ilmu.

Pikiran kita mempunyai hukum-hukum kodrat, mempunyai bentuk-bentuk dan prinsip yang harus diindahkan supaya dapat bekerja dengan baik. Hukum, bentuk, dan prinsipprinsip tersebut dapat bekerja dengan baik. Hukum, bentuk, dan prinsip-prinsip tersebut dapat diselidiki dan dikumpulkan. Hal tersebut dapat dilaksanakan karena manusia dapat sadar akan kesadaranya. Batu tidak sadar akan sesuatu pun, demikian juga pohon. Hewan memang mempunyai kesadaran, tetapi berlainan sekali dengan kesadaran manusia. Hewan tiak pernah sadar akan dirinya sendiri dalam arti yang formal, artinya sehingga dapat berkata : Aku, apa sebab? karena hewan bukan persona. Berlainanlah dengan manusia. 

Dari fakta manusia mengerti dan dapat mengerti bahwa mengerti, ia juga dapat memandang objek yang tiak material. Demikian ia dapat berfikir tentang pikiranya. Manusia dapat menyelidiki caranya berpikir dan dapat menyelidiki hukum-hukum, bentuk-bentuk dan prinsip-prinsip pikiran sendiri. Hal ini dijalankan untuk menambah dan mencermatkan pengetahuan.

Tetapi manusia tidak hanya berhenti pada mengetahui, berhenti pada memandang demi memandang. Pengetahuan tersebut dapat juga di pergunakan untuk berpikir dengan cara yang lebih sempurna. Demikianlah logika sientifika juga disebut ilmu.

2. Praktis Dan Normatif

Berhubung terdapat berbagai ilmu, maka dalam pandangan tentang ilmu diutarakan beberapa klasifikasi ilmu. Masalah ini sesungguhna agak sulit, dan disini, karena berbagai keterbatasan, dihindari uraian sampai keseluk-beluknya. Biasanya ilmu dibagi sebagai berikut :

1. Ilmu-ilmu alam (natuurwetenschappen, naturwissenschaften) bertujuan untuk menggetahui alam, dasarnya : observasi dan eksperimen. Tujuan akhir dari segalanya itu adalah untuk menangkap dan mengatur gejala-gejala alam sehingga dapat dirumuskan hukum-hukum dan diletakkan kedalam suatu pola besar. Pada mulanya terdapat keyakinan bahwa alam dapat dimengerti sebagaimana nyatanya, tetapi lama kelamaan juga semakin disadari bahwa mereka hanya dapat menyuguhkan suatu model tertentu saja. Dan model itu hanya suatu alat saja.
2. Ilmu-ilmu kejiwaan atau ilmu-ilmu budaya

Logika Alami Dan Logika Sientifika

Logika Alami Dan Logika Sientifika

Wibi Alwi Surya Kuncoro 07.26.00 Add Comment
Logika Alami Dan Logika Sientifika-Banyak hal yang menyebabkan kita berfikir. Pasa suatu malam saya mendengar telepon berdering. Telepon saya terima, dan kawan saya minta agar saya segera datang, ditengah malam itu juga. Saya yakin ada sesuatu yang mendesak, serius. Kawan saya tidak mengatakanya, tetapi saya berfikir demikian. Saya menyimpulkan demikian.

Pengalaman mengatakan bahwa kita tidak hanya sering berfikir, tetapi juga harus berpikir. Kita harus melihat jauh kedepan, kita harus membuat rencana. DE facto membuat rencana, bahkan merupakan kewajiban dan keharusan bagi manusia, betapapun keterbatasan rencana dan antisipasi manusia.

Dalam kegiatan berpikir sehari-hari kita secara spontan kita telah mengikuti hukum-hukum yang secara alami memerintah. Dan memang benar bahwa logika alami (natural, spontan, dengan naluri) tersebut telah mencakupi bagi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.

Tetapi logika alami ini tidak cukup jelas atau tegas eksplisit untuk menjauhkan kita dari kekeliruan-kekeliruan. Didalam hidup ini tidak jarang manusia harus membuat pemikiran-pemikiran yang cukup sulit dan berliku-liku, sehingga sangat pentinglah kalau orang-orang mengetahui hukum-hukum kodrat pikiran tadi secara sadar. Eksplisit agar kita secara sadar menerapkanya sehingga kita mempunyai kepastian atas kebenaran proses berpikir kita, demikian juga kepastian dengan kesimpulannya.

Pengalaman juga mengatakan bahwa kita sering tersesat dalam berpikir. Memang, sesudah mengalami tersesat, kita dapat menganalisa kesesatan kita dan menemukan sebab-sebabnya kesesatan itu. Dan apabila kita bijaksana, pastilah kita jaga diri kita jangan sampai terperosok kedalam pemikiran sesat semacam itu, jangan sampai kesesatan yang sama terulang lagi hari depan. Dalam arti inilah sesungguhnya pengalaman merupakan guru, lewat penderitaan kita belajar (pathei matos, kata Aischylos). Tetapi menurut hemat kami, pengalam adalah tempat belajar yang tidak jarang sangat pahit. Logika sientifika menyarankan gantinya.

Jadi memang tanpa logika sientifika seseorang dapat dengan pasti menarik kesimpulan dan mencapai kebenaran, terutama apabila menganal hal yang tidak sulit. Dalam kejadian seperti ini logika alami cukup.

Perlu kiranya diingat bahwa hukum berpikir yang akan dirumuskan dalam logika sientifika itu adalah hukum kodrat. Jadi akal manusia sebagai benda kodrat juga dengan sendirinya menjalankan hukum-hukum itu.

Tetapi hal ini terjadi tanpa pengetahuan, tanpa kesadaran. Maka dari itu tidak sempurna. Kecuali itu, berbagai macam kebiasaan dan praktek dalam cara berpikir sudah banyak memperkosa hukum-hukum ini.

Barang siapa mempelajari berbagai jalan pikiran dengan cermat dan sistematis, akan segera menyadari bahwa banyak jalan pikiran yang tidak berkaitan, bahkan berlawanan asas, banyak kesimpulan yang salah dan bahwa, baik didalam kehidupan sehari-hari mauapun didalam ilmu serta filsafat, terjadi banyak kekeliruan berfikir (fallaciees, drogrodenen).

Pikiran kita, demikian juga embicaraan kita, sering kali sangat kuat ditentukan oleh rasa perasaan dan faktor irasional lainya. Maka, tanpa pelajaran, tanpa belajar logika sientifika, akan mungkin sekali terdapat kepincangan dalam proses berpikir, proses penalaran.

Memang akal sehat (common sense, gezon verstand) selalu dituntut, tetapi pada hakikatnya tidak selalu mencukupi. Sebab kita tidak hanya perlu mencapai kebenaran, tetapi juga harus dapat, menyingkirkan kesulitan yang merintang dijalan dan sanggup menjelaskan kesesatan-kesesatan dengan menganalisa jalan pikiran. Di sinilah akal sehat melalui tidak akan mencukupi, karena akal sehat tidak mengerti sebab-sebab kesesatan dan cara berpikir yang palsu. Di sini kita tidak menyangkal bahwa akal sehat dapat menyimpulkan sesuatu dari suatu kebenaran, tetapi tidak akan demikianlah apabila kegiatan berpikir manusia telah meningkatkan pada masalah yang berseluk-beluk, pada prinsip-prinsip dasar, dan membuat kesimpulan-kesimpulan jauh yang sulit.

Jadi logika sientifika mutlak dibutuhkan untuk semakin memperlengkapi kita guna untuk mempertajam jiwa dan menolong meluruskan kerja intelek manusia dengan menyuruhnya mengikuti, mematuhi prinsip-prinsip dasar yang memerintahnya dengan sadar. Logika sientifika sesungguhnya merupakan penyempurnaan metodis logika alami.

Demikian postingan dari wibialwis blog yang berjudul Logika Alami Dan Logika Sientifika. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat.
Hukum Pemikiran Adalah Hukum Alami

Hukum Pemikiran Adalah Hukum Alami

Wibi Alwi Surya Kuncoro 14.16.00 Add Comment
Jadi pikiran manusia tidak hanya bergerak secara horizontal, tetapi juga secara vertikal, yakni dari pengalaman metafisik, dari pengertian natural ke pengertian supranatural.

Dalam setiap taraf, kebenaran dicapai secara langsung dan sebagai secara tidak langsung. Pengertian yang langsung secara sadar, signate adalah terbatas. Tetapi secara exercite, pada hakikatnya, pengertian langsung tadi sangat kaya, padat dengan informasi. Pengertian yang tidak langsung diperoleh dengan mengadakan explorasi pada serta ekspilitasi dari daerah yang padat informasi tadi, dan kemudian memastikanya.

Apabila hausnya akan pengertian itu terpuaskan, maka ini bearti pengakhiran ketidaktahuan. Lepas dari ke tidak tahuan dan kebodohan adalah sesuatu yang membahagiakan. Sebab ketidaktahuan dan kebodohan adalah kegelapan, sumber dari banyak penderitaan. Dan pengertian adalah pengertian akan kebenaran akan membebaskanya. Akhirnya kebenaran yang sempurna akan membebaskan manusia dari segala deritanya, dan membuatnya bahagia selamanya. Inilah akhir tertinggi dari manusia.

Maka menggingat dari semuanya yang tersebut diatas, adalah merupakan tugas manusia yang hakiki untuk mencari kebenaran dan menggunakan segala yang ada guna mencapainya.Tetapi mencari tidak boleh asal mencari. Kita harus tahu, tidak hanya dimana tetapi bagaimana mencarinya. Oleh karena itu kita harus mengetahui cara-cara atau teknik-teknik mencari atau memastikan kebenaran. dan hal-hal tersebut dipelajari dalam logika.

Secara alami pemikiran (penalaran) manusia bergerak dari pengetahuan pra-predikatif ke pengetahuan predikatif. Tetapi gerak alamiah ini bukanya berhenti hanya pada keputusan atau prediksi. Karena saya dapat mencampurkan dua keputusan sedemikian rupa sehingga dari kombinasi tersebut terbitlah suatu pandangan, yang andaikata masing-masing keputusan tadi dipandang sendirian tidak akan menerbitkan pandangan tersebut. Misalnya keputusan : "Semua materi pasti akan hancur, "kemudian saya dapat membuat sebuah keputusan lainya lagi, misalnya : "Badan manusia itu adalah materi." Dalam kejadian seperti ini dalam pemikiran saya terdapat gerakan alamiah, sehingga keluarlah keputusan ketiga : ". Maka badan manusia pasti akan hancur." Antara keputusan pertama dan keputusan kedua terdapat suatu hubungan tertentu, demikian juga antara subjeck dan preikatnya, sehingga dengan cara alamiah saya dapat menghubungkan subjek dari keputusan kedua dengan predikat dari keputusan pertama. Istilah teknis yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut disebut: menyimpulkan.

Tetapi dalam bentuk-bentuk lainya, hubungan semacam itu dapat tidak ada sehingga gerak alamiah ke suatu kesimpulan tidak terwujud. Misalnya kombinasi :" Entit Suwandi seorang mahasiswa" dengan " Manusia akan mati ". Dari kedua keputusan ini saya tidak melihat kemungkinan membuat kesimpulan. Kalau ada orang yang kemudian menyimpulkan: "Entit Suwandi akan mati", Kiranya segera akan ada orang yang mengatakan bahwa kesimpulan tersebut tidak logis, meskipun diakui bahwa kesimpulan tersebut benar.

Jelas kiranya, bahwasanya terdapat hukuman-hukuman yang harus ditaati oleh setiap proses pemikiran atau penalaran. Tetapi berfikir yang baik yakni berfikir logis dialektis harus mengindahkan bukan hanya kebenaran bentuk atau hukum-hukum, tetapi juga harus mengindahkan materi pemikiran beserta kriterianya. Hukum-hukum tersebut diselidiki dan dirumuskan oleh logika. Sedangkan masalah kebenaran materi dan kriterianya dicari pada masing-masing bidangnya serta pada estimologi. Orang yang mengeksplisitkan teori logika, yakni menyusun logikamenurut pola yang dapat dipertanggung jawabkan, adalah Aristoteles. Dialah bapak ilmu logika, logike episteme, yang disebut juga logike techne. Seni berlogika
Peran Logika Bagi Hukum

Peran Logika Bagi Hukum

Wibi Alwi Surya Kuncoro 13.25.00 Add Comment
Peran Logika Bagi Hukum-Secara historis yakni menurut sejarahnya, yang pertama-tama menjadi perhatian para filsuf dan digarap adalah problema tentang ada, disempitkan lagi : problema ontika. Tetapi kemudian disadari bahwasanya akan lebih sistematis apabila ditempuh prosedur yang sebaliknya. Sebab barang siapa yang menggarap tertib riel secara ntelktual pasti harus menggunakan tertip ideal, yakni harus menggunakan proses tahu dan pengetahuan.

Pertimbangan selanjutnya supaya orang dapat bekerja lebih tertib, aman dan berhasil karena orang tahu, lebih tahu, dan sadar akan alat yang dipergunakanya beserta mekanisme dan seluk beluknya. Maka, oleh karena itu pulalah logika sintifika dijadikan kebiasaan ditelaah sebelum orang mempelajari filsafat atau sebelum berfilsafat. Meskipun sesungguhnya secara pedagogis problema logika akan lebih dimengerti bila orang telah cukup dalam memasuki liku-liku dunia pemikiran filsafat, telah cukup luas mempelajari sejarah filsafat serta liku-liku berbagai ragam doktrin filsafatnya, dan telah intensif mengalami atau menghayati seluk beluk dan liku-liku pemikiran umumnya.

Kepentingan, peranan dan manfaat logika sientifika akan segera terasakan bagi mereka yang hendak menyempurnakan kesanggupan mereka berfikir sehari-hari, khususnya bagi mereka yang hendak memasuki dan menggauli liku-liku dunia ilmu.

Logika sientifika adalah kondisi dan tuntutan fundamental eksistensi ilmu. Tidak ada ilmu yang tidak menggunakan atau tidak harus menempuh proses pemikiran, proses logika.

Justru semakin meningkat keterlibatan dalam ilmu, semakin dibutuhkan kesanggupan untuk berfikir yang tertib baik. Berhubung bidang sekarang makin sulit, proses pemikiranya semakin menuntut pertanggung jawaban dan ketelitaian, karenanya logika alami tidak akan lagi mencukupi.

Betapa logika dan hasil logika secara eksplisit dipakai serta diakui sebagai senjata dan alat yang ampuh dalam menanggulangi pemikiran dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sah, dalam menyelesaikan bermacam masalah diberbagai ilmu, khususnya ilmu-ilmu sosial, dapat misalnya dilihat karya-karya diberbagai bidang sebagai berikut :

Agama Bochenski
Hukum Menger. Oppenhim, Klug
Ekonomi Morgenstern, von Neumann, Papandereon
Psikologi Hempel, Fitch, Piaget
Matematika Frege, Whitehead, Russell, Bernays, Scholz, Carnap, Skolem, Shannon
Fisika Carnap, Dilbruck, Rusell, Shannon, Whitehead, Reichenbach, Ferrer
Biologi Wioddger, Tarski

Maka sangat tepatlah nama yang diberika pada tulisan-tulisan Aristoteles tentang logika yakni To Organon, yang artinya instrumen, alat. Sebab tidak ada ilmu yang menggabaikan alat ini. Logika bahkan de facto merupakan pintu gerbang dari segala ilmu. Maka beruntunglah para mahasiswa yang memasuki universitas /fakultas yang memasukkan logika sientifika dalam kurikulumnya sebagai suatu propaeduse.
Logika Adalah Filsafat Sebagai Analisis

Logika Adalah Filsafat Sebagai Analisis

Wibi Alwi Surya Kuncoro 09.43.00 Add Comment
Logika Adalah Filsafat Sebagai Analisis-Logika Adalah Filsafat Sebagai Analisis-Sudah menjadi kebiasaan bahwasanya logika sientifika dianggap atau (paling sedikit) dirasanakan karena diperlakukan sebagai filsafat atau bagian filsafat. Hanya disayangkan bahwasanya anggapan dan rasa perasaan tersebut biasanya muncul atau dari dukungan oleh pengalaman bahwa logika sientifika dirasakan sulit (juga dirasakan sangat kering) sebagaimana biasanya anggapan orang terhadap filsafat. Tetapi sayang bahwa anggapan dan rasa perasaan terbit kurang melalu proses pertimbangan rasional. Padahal anggapan bahwa logika sientifika itu adalah bagian filsafat sesungguhnya memang beralasan tepat.

Filsafat adalah ilmu tentang prinsip, ilmu yang mempelajari dengan mempertanyakan secara radikal segala realitas melalui sebab-sebab terakhir, melalui asas-asasnya guna memperoleh pandangan (insiht) yang tepat mengenai realitas. Secara umum filsafat mengandung/ mencakup problema noetika yang mencakup problema logika dan problem epistemologi (kriteria, kriteriologi, juga methodologi) serta mengandung problema ontologis dan ontika.

Jai sesungguhnyalah logika sientifika adalah filsafat, karenanya juga bisa disebu logika filsafat (de wijsgerige logica). Karena logika sintifika menguraikan pikiran hingga tuntas, sampai habis-habisan, maka logika merupakan filsafat sebagai analisis. Logika adalah analisis kritis filososfi pikiran dan pemikiran manusia.

Meskipun perkembangan kini menunjukan kecenderungan logika untuk berdiri sendiri atau dipisahkan lepas dari filsafat, tetapi agaknya hal ini tidak akan berhasil.

Nah itulah pengertian Logika Adalah Filsafat Sebagai Analisis. Semoga Bermanfaat